TEORI
PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN MANUSIA
Salah
satu teori yang bagi saya mengagumkan dan mudah dipahami dalam pembahasan
tentang psikologi perkembangan adalah teori Erik Homburger Erikson.
Erikson
mengembangkan dua filosofi dasar berkenaan dengan perkembangan, yaitu:
1.
dunia bertambah besar seiring dengan diri kita
2.
kegagalan bersifat kumulatif
Kedua
dasar filosofi inilah yang membentuk teorinya yang terkenal itu. Ia hendak
mengatakan bahwa dunia semakin besar seiring dengan perkembangan karena kapasitas
persepsi dan kognisi manusia juga mengalami perubahan. Di sisi lain, dalam
pengertian Erikson, kegagalan yang terjadi pada sebuah stage perkembangan akan
menghambat sebuah proses perkembangan ke stage berikutnya. Kegagalan ini tidak
lantas hilang dengan sendirinya, bahkan terakumulasi dalam stage perkembangan
berikutnya.
Dari
penelitiannya, Erikson yang penganut Freudian (karena menggunakan konsep ego)
ini melihat bahwa jalur perkembangan merupakan interaksi antara tubuh
(pemrograman biologi genetika), pikiran (aspek psikologis), dan pengaruh
budaya.
Erikson
mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang sejak
kelahiran hingga kematian.
1.
Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.
Hasil
perkembangan ego: trust vs mistrust (percaya vs tidak percaya)
Kekuatan
dasar: Dorongan dan harapan
Periode
ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi
memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu memainkan peranan
terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak,
dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui
dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan
melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di
periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan
melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi.
Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa
pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal
kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan
bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya
bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam
memberikan kasih sayang secara tetap.
2.
Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
Hasil
perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)
Kekuatan
dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan (will)
Selama
tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar
belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari
perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat dihargai:
toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan untuk belajar tentang
harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan
bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah. Salah satu
ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK. Sekalipun
tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk pengembangan semangat dan
kemauan.
Di
sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya
berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill
lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh,
individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.
3.
Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
Hasil
perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
Kekuatan
dasar: Tujuan
Pada
periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di
sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki
bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main
“pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan,
handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul
sebuah kata yang sering diucapkan seorang anak:”KENAPA?”
Sesuai
dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki) juga sedang
berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal struggle”. Kita
sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat kelaminnya, saling
menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan menunjukkan pada anak
perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan perasaan bersalah.
Hubungan
yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti (ayah, ibu, dan
saudara).
4.
Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun
Hasil
perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)
Kekuatan
dasar: Metode dan kompetensi
Periode
ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya
menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti,
berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya
pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa
tumbuh dan berkembang.
Ketrampilan
baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri
(ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta
berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara
normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.
Sekolah
dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan ego
ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai
otoritas tunggal.
5.
Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun
Hasil
perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)
Kekuatan
dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)
Bila
sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya,
sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung pada apa yang saya
kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi
dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari
identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan
persoalan-persoalan moral.
Tugas
perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang
terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih
luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami
kebingungan dan kekacauan peran.
Hal
utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini,
seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada
kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan
ketergantungan pada teman.
6.
Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun
Hasil
perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)
Kekuatan
dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)
Langkah
awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling
memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan.
Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.
Kegagalan
di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia
terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk
pertahanan ego.
Hubungan
yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7.
Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun
Hasil
perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation
Kekuatan
dasar: production and care (produksi dan perhatian)
Masa
ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh
dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di
seputar keluarga. Selain itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama.
Tugas
yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya
pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang
stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan
sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di
masa ini, kita takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.
Sementara
itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan
berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna
dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah
self-absorpsi atau stagnasi.
Yang
memainkan peranan di sini adalh komunitas dan keluarga.
7.
Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati
Hasil
perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)
Kekuatan
dasar: wisdom (kebijaksanaan)
Orang
berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan
bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada
kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima
keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya,
orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum
bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi,
ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang
dianutnyalah yang paling benar.
This
entry was posted on August 10, 2008 at 12:44 am and is filed under
Psikologi,Sharing with tags Mercusuar Insan, Mercusuar Kata. You can follow any
responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or
trackback from your own site.
KRITERIA
PENAHAPAN PERKEMBANGAN INDIVIDU PERKEMBANGAN MANUSIA
Sejak
konsepsi sampai masa prosesnya terjadi secara bertahap melalui berbagai tahapan
perkembangan, dimana dalam setiap tahapan perkembangan ditandai dengan bentuk
kehidupan tertentu yang berbeda dengan fase sebelum dan sesudahnya. Untuk
memudahkan kita memahami tahapan perkembangan tersebut Ellizabeth Hurlock
secara lengkap telah membagi tahapan perkembangan manusia dalam sepuluh tahapan
/ masa perkembangan, yaitu :
1.
Masa sebelum lahir (Prenatal) selama 280 hari
2.
Masa bayi baru lahir (new born) 0,0-2,0 minggu
3.
Masa bayi ( baby hood ) 2 minggu-2,0 tahun
4.
Masa kanak-kanak awal (early childhood) 2,0-6,0 tahun
5.
Masa kanak-kanak akhir (later childhood) 6,0-12,0 tahun
6.
Masa puber (puberty) 11,0 / 12,0-15,0 / 16,0
7.
Masa remaja (adolescence) 15,0 / 16,0-21,0 tahun
8.
Masa dewasa awal (early adulthood) 21,0-40,0 tahun
9.
Masa dewasa madya (middle adulthood) 40,0-60,0 tahun
10.
Masa usia lanjut (later adulthood) 60,0 –
Dari
pembagian tahapan perkembangan diatas berarti bahwa proses pertumbuhan dan
perkembangan anak itu berlangsung sejak masa prenatal sampai anak selesai
remaja.
PERKEMBANGAN
ANAK
Makna
pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak adalah terjadinya perubahan yang
besifat terus nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap,
lebih komleks dan lebih berdiferensiasi. Jadi berbicara soal perkembangan anak
yang dibicarakan adalah perubahan. Pertanyaannya adalah perubahan apa saja yang
terjadi pada diri seorang anak dalam proses perkembangan ? Untuk menjawab
pertanyaan itu maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan
1.
Aspek-Aspek pertumbuhan dan Perkembangan
a.
pertumbuha dan Perkembangan fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi
anggota badan, tampang, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh
seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan.
b.
pertumbuhan dan Perkembangan kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam
proses berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya
ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan
keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan mengunakan bahasa.
c.
pertumbuhan yang seimbang dengan Perkembangan sosial – emosional yaitu
perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan
untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain,
keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persahabatan, dan
pengertian tentang moral.
Harus
dipahami dengan sesungguh – sungguhnya bahwa ketiga aspek perkembangan itu
merupakan satu kesatuan yang utuh (terpadu), tidak terpisahkan satu sama lain.
Setiap aspek perkembangan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya.
Sebagai contoh perkembangan fisik seorang anak seperti meraih, duduk,
merangkak, dan berjalan sangat mempengaruh terhadap perkembangan kognitif anak
yaitu dalam memahami lingkungan sekitar di mana ia berada. Ketika seorang anak
mencapai tingkat perkembangan tertentu dalam berpikifr (kognitif) dan lebih
terampil dalam bertindak, maka akan mendapat respon dan stimulasi lebih banyak
dari orang dewasa, seperti dalam melakukan permaianan, percakapan dan
berkomunikasi sehingga anak dapat mencapai keterampilan baru (aspek
sosial-emosional). Hal seperti ini memperkaya pengalaman dan pada gilirannya
dapat mendorong berkembangnya semua aspek perkembangan secara menyeluruh.
Dengan kata lain perkembangan itu tidak terjadi secara sendiri-sendiri.
2.
Periode pertumbuhan dan Perkembangan
Para
peneliti biasanya membagi segmen perkembangan anak. Ketika anak mencapai
pertumbuhan serta perkembangan pada periode tertentu maka akan dipereroleh
kemampuan dan pengalaman sosial-emosional yang baru. Periode pra-lahir : sejak
masa konsepsi sampai lahir. Pada periode ini terjadi perubahan yang paling
cepat. Periode masa bayi dan kanak-kanak: Sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada
periode ini terjadi perubahan badan dan pertumbuhan otak yang dramatis,
mendukung terjadinya saling berhubungan antara kemampuan gerak, persepsi,
kapasitas kecerdasan, bahasa dan terjadi untuk pertama kali berinteraksi secara
akrab dengan orang lain. Masa bayi dihabiskan pada tahun pertama sedanga masa kanak-anak dihabiskan pada tahun kedua
Periode
awal masa anak : dari usia 2 tahun sampai 6 tahun. Pada periode ini ukuran
badan menjadi lebih tinggi, keterampilan motorik menjadi lebih luwes, mulai
dapat mengontrol diri sendiri dan dapat memenuhi menjadi lebih luas. Pada masa
ini anak mulai bermain dengan membentuk kelompok teman sebaya. Periode masa
anak-anak: dari usia 6 sampai 11 tahun. Pada masa ini anak belajar tentang
dunianya lebih luas dan mulai dapat menguasai tanggung jawab, mulai memahami
aturan, mulai menguasai proes berpikir logis, mulai menguasai keterampilan baca
tulis, dan lebih maju dalam memahami diri sendiri, dan pertemanan. Periode masa
remaja: dari usia 11-20 tahun. Periode ini adalah jembatan antara masa
anak-anak dengan masa dewasa. Terjadi kematangan seksual, berpikir menjadi
lebih abstrak dan idealistik
3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Untuk
melihat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak, maka muncul
pertanyaan: apakah perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar atau
perkembangan itu hasil dari proses belajar ? Pertanyaan itu bisa dijawab ya,
bahwa perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar. Artinya jika seorang anak
belajar perlu didasari oleh kesiapan (kematangan) yang dicapai dalam
perkembangan. Misalnya seorang anak tidak mungkin akan bisa belajar bahasa dan
bicara jika belum mencapai kesiapan (kematangan), meskipun lingkungan
diciptakan sedemikian rupa agar anak dapat belajar bahasa dan bicara.
Sebaliknya, pertanyaan itu bisa dijawab ya bahwa perkembangan itu adalah hasil
belajar. Artinya perubahan yang terjadi pada diri seorang anak diperoleh melaui
proses interaksi dengan lingkungannya. Misalnya meskipun setiap anak memiliki
potensi untuk belajar bahasa dan bicara dan telah mencapai kematangan untuk
siap belajar, tetapi anak tersebut sama sekali tidak mendapatkan rangsangan
dari luar (lingkungan) untuk belajar, maka anak itu tidak akan memperoleh
keterampilan berbahasa.
Oleh
karena itu terdapat hubungan timbal balik atau saling mempenagruhi antara
proses belajar dalam lingkungan dengan kematangan perkembangan. Dengan kata
lain pada saat tetentu belajar ditentukan oleh kematangan perkembangan, tetapi
pada saat yang lain perkembangan adalah hasil dari proses belajar. Konsekuensi
dari keadaan ini maka jika seorang anak mengalami hambatan dalam mencapai
kematangan perkembangan karena ada gangguan pada aspek fisik atau kognitif atau
sosial-emosional maka dapat dipastikan akan mengalami hambatan belajar, dan
anak yang mengalami hambatan belajar akan mengalami hamabtan perkembangan. Anak
yang mengalami hambatan belajar dan atau hambatan perkembangan, memerlukan
layanan khusus dalam pendidikan dan disebut anak berkebutuhan khusus. Tahap
perkembangan berdasarkan psikologi Para ahli yang menggunakan aspes psikologi
sebagai landasan dalam menganalisis tahap perkembangan, mencari
pengalaman-pengalaman psikologis mana yang khas bagi individu pada umumnya
dapat digunakan sebagai masa perpindahan dari fase yang ada ke fase yang lain.
Dalam pekembangannya para ahli berpendapat bahwa dalam perkembangan pada
umumnya individu mengalami masa-masa kegoncangan. Apabila perkem-bangan itu
dapat dilukiskan sebagai proses evaluasi, maka pada masa kegoncangan itu
evaluasi berubah menjadi revolusi. Kegoncangan psikis itu dialami hamper semua
orang, karena itu dapat digunakans ebagai perpindahan darimasa satu kemasa yang
lain dalam proses perkembangan. Oswald Kroc mendasarkan pembagian masa
perkembangan pada krisis-krisis atau kegoncangan-kegoncangan yang dialami anak
dalam proses perkembangannya, yang disebutnya dengan dengan istilah Trotz
periode. Menurutnya sepanjang kehidupan ini terdapat tiga kali masa Trotz yaitu
1.
Trotz periode I, anak mengalami masa krisis pertama ketika ia berusia 3,0-5,0
tahun, masa ini disebut juga asa anak-anak awal.
2.
Trotz periode II, anak mengalami masa krisis kedua ketika ia berusia 11-12
tahun, masa ini termasuk masa kerahasiaan bersekolah.
3.
Trotz periode III, terjadi pada akhir masa remaja dan lebih tepat disebut
dengan masa kematangan diri pada masa kritis.
Sifat-sifat
anak trotz ini adalah meraja – raja, egosentris, keras kepala, pembangkang dan
sebagainya. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan memperoleh kebebasan dan
perhatian. Memperhatikan periodesasi yang dikemukakan para ahli diatas baik
dari segi biologi, didaktis maupun psikologis, maka dalam makalah ini ditulis
urutan-urutan periodesasi sebagai berikut
1.
Masa intra uterin (masa dalam kandungan) dan masa bayi
2.
Masa anak kecil
3.
Masa anak sekolah
4.
Masa remaja
5.
Masa dewasa
TEORI-TEORI
PROSES PENUAAN
A.
TEORI BIOLOGIS
Proses
penuaan merupakan proses secara berangsur yang mengakibatkan perubahan secara
komulatif dan merupakan perubahan serta berakhir dengan kematian. Teori
biologis tentang penuaan dibagi menjadi :
1.
Teori Instrinsik
Teori
ini berati perubahan yang berkaitan dengan usia timbul akibat penyebab dalam
diri sendiri.
2.
Teori Ekstrinsik
Teori
ini menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan.
Teori
lain menyatakan bahwa teori biologis dapat dibagi menjadi :
1.
Teori Genetik Clock
Teori
tersebut menyatakan bahwa menua telah terprogram secara genetik untuk species –
species tertentu. Tiap species mempunyai didalam nuklei ( inti selnya )suatu
jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan
menghitung mitosis dan akan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi
menurut konsep ini bila jam kita berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa
disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal. Konsep ini
didukung kenyataan bahwa ini merupakan cara menerangkan mengapa pada beberapa
species terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang nyata.
2.
Teori Mutasi Somatik ( teori error catastrophe )
Menurut
teori ini faktor lingkungan yang menyebabkan mutasi somatik . sebagai contoh
diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur sebaliknya
menghindarinya dapqaat mempperpanjang umur.menurut teori ini terjadinya mutasi yang
progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan
fungsi sel tersebut. Sebaai salah satu hipotesis yang berhubungan dengan mutasi
sel somatik adalah hipotesis error catastrope.
3.
Teori Auto imun
Dalam
proses metabolisme tubuh , suatu saat diproduksi oleh zat khusus. Ada jaringan
tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut, sehingga jaringan tubuh
menjadi lemah dan sakit.
4.
Teori Radikal Bebas
Radikal
bebas dapat dibentuk di alam bebas. Tidak stabilnya radikal bebas mengakibatkan
oksigenasi bahan – bahan organik seperti KH dan protein.radikal ini
menyebabkansel – sel tidak dapat beregenerasi.
B.
TEORI SOSIAL
Salah
satu teori sosial yang berkenaan dengan proses penuaan adalah teori pembebasan
( disengagement teori ). Teori tersebut menerangkan bahwa dengan berubahnya usi
seseorang secara berangsur – angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan
sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik
secara kualitatif maupun kuantitasnya sehingga sering terjadi kehilangan ganda
yaitu :
1.
kehilangan peran
2.
hambatan kontak fisik
3.
berkurangnya komitmen
C.
TEORI PSIKOLOGI
Teori
tugas perkembangan :
Menurut
Hangskerst, ( 1992 ) bahwa setiap individu harus memperhatikan tugas
perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan
perasaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini tergantung
pada maturasi fisik, penghargaan kultural masyarakat dan nilai serta aspirasi
individu. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya
penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa pensiun dan penurunan
income.penerimaan adanya kematian dari pasangannya dan orang – orang yang
berarti bagi dirinya. Mempertahankan hubungan dengan group yang seusianya,
adopsi dan adaptasi deengan peran sosial secara fleksibel dan mempertahankan
kehidupan secara memuaskan.


1 komentar:
شكرا كثيرا
Posting Komentar